Balada Si Anak Gajah ( bagian pertama)
Posted by dimasu on July 18, 2008
Cerita ini adalah cerita penuh pesan moral. Cerita tentang kekerasan hati dalam mengejar mimpi. Dianjurkan cerita ini dibaca secara perlahan. pelan-pelan. Dan sangat tidak dianjurkan dibaca secara fast reading. Haram. Pergilah kau, para fast reader. Mampir saja ke blog lain..hus..hus..
Selamat menikmati…
Di sebuah desa, hiduplah anak kuda berperawakan kecil. Warnanya putih, bantet, kakinya pendek. Bukan. Ini bukan makibao. Sosoknya lebih tinggi dari makibao. Tapi bisa dikatakan pendek jika dibandingkan dengan anak2 kuda lainnya. Namanya Indra. untuk menghindari sakit hati pada orang2 yang kebetulan memiliki nama Indra juga, kita sebut saja dia, si anak kuda.
Si anak kuda ini punya masalah. Seperti yang kita ketahui dari film Hidalgo, kasta pada kuda ditentukan dari seberapa cepat dia berlari. Nah, si anak kuda ini larinya lambat sekali. Kakinya yang pendek ditambah lemak yang melipat pada perutnya membuat kecepatan lari si anak kuda ini tak lebih dari 12,4 km/jam. Sebenarnya dia sempat membuat catatan lebih dari 12,4 km/jam, tapi sayang tak seekor kuda pun yang melihatnya sehingga tak ada yang mengakui klaim si anak kuda itu. bagaimana pun, larinya tergolong lambat sekali untuk ukuran anak2 kuda lainnya. kasihan…
Di desa itu,.. oh iya, saya lupa menceritakan, kalau desa tempat tinggal si anak kuda terletak di ujung utara India. Sangat terpencil. Nama desa itu adalah Desa Kandahe Soka Ravijay Ghunabajahe, desa bernama panjang namun hanya dihuni sekitar 40-an keluarga kuda. Tidak ada orang di situ. Hanya kuda. Desa bagi para kuda. Saya pikir tidak perlu diceritakan secara detail bagaimana suasana desa itu. silahkan anda khayal sendiri. oke, kembali ke cerita. Di desa itu, terdapat juga anak kuda lain yang berlari lambat. Sangat lambat. Bahkan lebih lambat dari si anak kuda. Warnanya coklat dekil. penyakitan. bau. mukanya jelek banget. kuda yang kalau dijual, mungkin si pembelinya yang akan diberi uang oleh penjualnya. Nama kuda itu.. ah, daripada nanti ada yang sakit hati, kita sebut saja si anak kuda cemen.
Anak kuda sangat tidak ingin dirinya disamakan dengan si anak kuda cemen. Karena itu dia punya tekad kuat, melakukan latihan lari secara intensif. Dia ingin menjadi seperti ayahnya. Kuda putih tangguh yang mampu berlari secepat motor RX king. kuda juara. begitulah julukannya di desa kandahe soka.. ah, apa lah nama desa itu. saya lupa.. Pada pagi hari di sudut desa, anak kuda sedang sarapan untuk bersiap-siap latihan lari. Sarapannya rumput liar tua yang tumbuh di pinggiran sungai. Katanya itu rumput yang lezat. Kayak spageti katanya. Tapi saya pikir anak kuda sedang membual saja karena kuda tak pernah makan spageti. Bagaimana dia bisa tau rasanya kayak spageti. kuda sotoy. Selesai sarapan, anak kuda pemanasan 5 menit. setelah itu, dimulailah latihan lari yang jauh. saaangat jauh. pada saatnya nanti, dunia akan takjub seberapa jauh dia berlari..
Dua jam berlalu. si anak kuda masih terus berlari ke arah barat. awalnya untuk menghindari arah sinar matahari, silau, karena itu dia berlari ke arah barat.. beberapa kali dia sempatkan diri untuk istirahat sebentar. makan rumput tua. minum air genangan. kemudian lari lagi sampai kira2 pukul 12 siang, mampir ke bawah pohon bersantai ria. anak kuda sudah merencanakan dia akan lari di pagi hari selama 5 jam. sore hari 5 jam. dan malam hari 5 jam. sehari dia lari 15 jam. Besokannya sama lagi. 15 jam. tekad yang kuat. Tak heran, karena dia mengejar impian untuk menjadi kuda juara berikutnya menggantikan sang ayah.
Hari terus berganti. Bulan terus berganti. si anak kuda terus berlari. Kakinya terus dipacu secepat mungkin. latihan lari yang sangat melelahkan sampai harus meninggalkan desanya. jauh meninggalkan desanya. Tak terasa purnama bulan sudah terlewati 2 kali. Anak kuda melewati sebuah desa. nama desanya.. panjang. saya yakin anda juga tidak mau tahu. Di desa itu anak kuda bertemu dengan seorang pawang kuda. Pawang kuda itu sedang bersedih. Sedih yang berlarut-larut karena kudanya sedang sakit. Sambil terisak nangis dia mengatakan bahwa kudanya salah makan. Kata dokter boyke, sakitnya parah. lebih parah dari flu burung. saat itu mungkin dokter boyke sendiri sedang stress sampai2 dia mengira dirinya adalah dokter hewan, padahal.. btw, di Indonesia juga ada dokter bernama boyke. tapi dokter di cerita ini bukan beliau.
Pak pawang curhat ke anak kuda. “wahai kuda muda liar, kuda saya sekarat.. YA AMPUN!!! KUDANYA MAU MATIII…” nangis pun menjadi2. Pak pawang teriak, terdengar keras hingga radius 500 meter. tampaknya pak pawang tak sadar kalau kudanya yang sedang sekarat makin merasa tersiksa mendengar teriakan si pawangnya. Di kondisi kritis tersebut, sang kuda memilih mencabut infusnya. tak tahan dia mendengar teriakan bising pak pawang. lebih baik cepat mati, pikir sang kuda. Benar saja, 4 menit kemudian sang kuda menghembuskan napas terakhirnya. Cerita sedih memang. Jika anda berada di dalam cerita ini, mungkin air mata anda akan menetes melihat kematian sang kuda.
Pak pawang berguling2an meratapi kematian kudanya. sesekali dia panjat dinding saking berdukanya. Si anak kuda yang menyaksikan event itu gemetar hebat karena terharu. dia ikut tak bisa menahan tangisnya. tiba2 dia teringat kata2 ayahnya, harimau mati menginggalkan belang, kuda mati meninggalkan pawangnya. Ternyata omongan ayahnya itu benar! lalu si anak kuda berteriak kepada pak pawang “SAYA TIDAK MAU MATI. SAYA TIDAK MAU MENINGGALKAN PAWANG” kemudian si anak kuda langsung berlari meninggalkan pak pawang, kuda yang mati, dan dokter boyke.. pak pawang langsung terdiam, nangis hebohnya berhenti. dalam hatinya “kamu kan kuda liar, tak punya pawang, apa yang ditinggalkan -_-”
Dalam larinya si anak kuda terus bercucuran air mata. Lari sambil nangis membelah desa. setelah 10 menit, desa terlewati, si anak kuda pun akhirnya nyadar kalau dia tidak punya pawang. nangisnya berhenti. ah, kenapa saya nangis, orang ga punya pawang kok, begitu katanya dalam hati. Latihan lari pun terus dilanjutkan. Tangisan berubah menjadi nyanyian kecil mengiringi langkah larinya. dia menyanyikan mars desa kampung halamannya. semakin lama anak kuda makin semangat bernyanyi, suaranya pun semakin keras. begini kira2 liriknya…
kuda ku berlari kencang
kencang bak angin menerjang
suara derap bergempita
memenuhi desa Kandahe Soka Ravijay Ghunabajahe
Beat pada mars ciptaan desa itu terbilang cepat. intonasi nadanya juga berfluaksi hebat ketika nama desanya yang panjang disebutkan. Hal ini membuat siapa pun yang mengumandangkannya ketika berlari akan terasa cepat capek. anak kuda pun berhenti bernyanyi. napasnya habis. who de heck pencipta mars ini, begitu gerutunya dalam hati.
Hari itu.. tepat 3 bulan si anak kuda berlari jauh meninggalkan desanya. kondisi tubuhnya semakin memprihatinkan. alih2 menjadi kuda juara, si anak kuda justru menjadi kekurangan gizi. tubuhnya yang dulu gembul berubah menjadi kurus. si anak kuda pun jatuh sakit. sial bagi si anak kuda, dia kepayahan di saat dia sedang berada di padang rumput luas yang sepertinya tak berujung. langkahnya semakin gontai. berkali2 dia ambruk di tengah terik matahari saat itu. perutnya lapar. tiba2 dia teringat kata2 ayahnya, “Tuhan sayang sama kuda, karena itu Dia ciptakan rumput. Manusia juga mengaku sayang sama kuda, karena itu mereka ciptakan tali kekang dan pelana”.
Saat itu anak kuda tidak mengerti apa maksud omongan ayahnya. sampai sekarang pun tak mengerti. konon sang ayah sendiri juga tidak mengerti. dia hanya melanjutkan apa yang dikatakan kakeknya si anak kuda. sang kakek sendiri tau kata2 itu dari sebuah buku tulis anak2 SD yang di baris bawahnya suka ada kata2 bijak. sang kakek menemukan buku itu dari.. ah, jadi keluar dari topik. lupakan kakek itu. tak penting. Si anak kuda hanya menyimak kalimat pertama. Tapi dia sendiri punya pendapat lain, Tuhan pasti membenci rumput, jadi Dia ciptakan kuda. begitu pikirnya. Karena itu dia hanya ingin memakan rumput yang sudah tua saja. dia tidak akan mau makan rumput yang masih muda. ga tega katanya. masalahnya, padang rumput yang luas ini isinya adalah rumput2 muda semua. anak kuda tak berani makan. maka pingsan lah si anak kuda di tengah padang rumput..
1 minggu kemudian. anak kuda terbangun. dilihatnya kalender, 15 juli 2007! kaget dia, dia pikir dia diculik alien dan dibuang ke mesin waktu dan terdampar di tahun lalu. padahal kalender itu bekas. udah dijadiin bungkus kado untuk pasien yang tidur di sebelah si anak kuda. ya, anak kuda berada di rumah sakit. seorang musafir menemukannya dan segera membawanya ke rumah sakit di Iran. Anak kuda pun berpikir ternyata dia sudah berlari sejauh itu. dalam hatinya dia tersenyum bangga, lihatlah ayah, saya sudah berlari sampai negeri Iran. Anak kuda sendiri mengira Iran itu ada di dataran eropa, sehingga kebanggaannya semakin meluap-luap. sebenarnya anak kuda jatuh sakit itu masih di India. tepatnya 5 km dari desa kampung halamannya. kebetulan ada orang Iran yang mungut terus dibawa pake pesawat ke Iran.
Btw, anda mungkin iseng menghitung2 dengan data kecepatan si anak kuda yang sebenarnya bisa mentok di 12,4 km/jam, lalu si anak kuda lari 15 jam sehari, dan fakta bahwa si anak kuda telah lari tepat 3 bulan. seharusnya si anak kuda sudah jauh dari desanya, lebih dari 5 km. Anda mungkin mengira, ah bodoh sekali penulis blog ini. tak bisa matematika. tapi segera lah tarik pikiran anda itu. sebenarnya anda lah yang kurang teliti membacanya kalau berpikiran seperti itu. Anda pasti lupa bahwa si anak kuda lari menghindari arah sinar matahari. jadi ketika pagi dia lari ke arah barat, sore lari ke arah timur, malam lari ke arah terserah dia mau. karena itu angka 5 km tentunya adalah sesuatu yang masuk akal. bacalah dengan perlahan-lahan. fast reading itu haram lho..
Kembali ke cerita, si pemungut anak kuda kemudian datang. tampak dia turut sedih dengan sakitnya si anak kuda. kemudian dia mengatakan bahwa si anak kuda kakinya harus diamputasi. Menurut dokter, anak kuda terlalu memaksakan kakinya sehingga menjadi begitu. Anak kuda yang mendengar ini kecewa berat. kenapa.. kenapa penyakit ini memilih saya..gumamnya ke arah langit2. ya karena kau memaksakannya, kan saya baru aja bilang tadi, begitulah dalam hati si pemungut. oiya, sekedar info, dokter yang menyuruh amputasi itu adalah dokter boyke dari india. dia sebenarnya bekerja di iran, tapi kemarin2 lagi pulang kampung. sampai sekarang dia masih mengira dirinya adalah dokter hewan. kembali ke cerita, si pemungut kemudian berbincang dengan si anak kuda,
“kamu sedang apa sih sampe bisa sakit begitu?”
“gini om, saya lagi latihan lari. Saya ingin jadi kuda juara”
“wow, hebat sekali. mau jadi kayak kuda ini juga ya?” si pemungut anak kuda memperlihatkan sebuah koran. dan ternyata..
“HAH? ini kan si kuda cemen!” si anak kuda takjub melihat foto si anak kuda cemen berwarna coklat dekil itu menghiasi halaman koran tersebut. kemudian dibacanya artikel di bawahnya…
Seekor anak kuda berhasil menjuarai kejuaraan lomba balap kuda junior se-India. Dikatakan bahwa keberhasilannya tak lepas dari jasa sang kuda juara dari desa Kandahe Soka Ravivi Gundabala. (tampaknya koran ini juga kesulitan menulis nama desa itu. koran itu salah menyebutkan 2 kata terakhirnya). menurut si anak kuda cemen, begitu julukannya dahulu, sang juara dari desanya membelikan sebuah treadmill berteknologi canggih yang mampu mengubah sesekuda menjadi pelari kuda papan atas dunia. Tadinya diniatkan untuk anaknya yang bertubuh bantet. tapi sayang, si anak menghilang. treadmill pun dihibahkan kepada anak kuda lainnya di desa itu. anak kuda yang beruntung mendapatkan treadmill itu adalah anak kuda muda berwarna coklat dekil ini, yang bernama.. (koran itu tersobek sampai tulisan ini. mungkin yang merobek itu adalah orang yang bernama sama dengan si kuda dekil bermuka jelek itu)
Anak kuda menyesal setengah mati. Dia terlalu serius mengejar mimpinya sampai2 lupa pamitan. bahkan dia tidak tahu bagaimana cara pulang. terlebih lagi kakinya harus diamputasi. maka hilang lah mimpinya. lebih buruk dari itu, dia kalah sama anak kuda cemen…
Pemungut anak kuda ingin menghibur si anak kuda. dia mengatakan bahwa dahulu kala, dahulu sekali, tepatnya tahun 18.509 sebelum masehi (si pemungut sebenarnya asal sebut aja angka 18 ribuan ini, yang pasti ribuan tahun SM lah), ada seekor anak gajah yang mengalami hal serupa. Ya, anak gajah. si anak kuda pun akhirnya nyadar ternyata judul postingan ini berasal dari cerita si pemungut ini. ah, malunya dia. dia pikir penulis blog ini salah menulis judul, dan sempat ingin protes. GR-an. shame on you, anak kuda, shame on you.
Baiklah, kita mulai saja cerita si pemungut itu, Balada si Anak Gajah… (bersambung)
Posted in My Life | 3 Comments »




