Ada yang aneh dengan kenaikan harga minyak dunia (yang saya maksud bukan BBM dalam negeri loh) yang tajam akhir2 ini?
Banyak yang berpendapat di media, kenaikan ini dipicu oleh aksi spekulan. Menurut saya juga demikian, mengingat permasalahan riil di minyak tidak sampai segitunya. Ya memang di north sea oil sedang ada masalah. Atau situasi politik internasional di tanah timur tengah yang sedang panas. Atau masalah sosial di lapangan minyak Nigeria. Atau lebih luasnya lagi, cadangan minyak dunia terus menurun sementara kebutuhan energi terus meningkat seiring kemajuan umat manusia. Tetapi saya pikir pengaruhnya tidak sampai segitunya (harga naik ratusan persen dalam 5 tahun belakangan ini), karena supply minyak tetap dapat dikontrol. Bahkan ketika perang teluk pada dekade yang lalu atau ketika embargo di Arab pun tidak sampai sebesar ini pengaruhnya. Kejadian lonjakan harga minyak seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Mungkin pernah (ketika saya belum lahir), tetapi tidak sampai se-ekstrim ini, di mana dalam hitungan hari harga minyak naik tajam dari 120 dolar menanjak tajam hingga menyentuh 135 dolar.
Ulah Si Spekulan
Sebenarnya apa yang dilakukan spekulan2 itu sampai mampu membuat kondisi krisis minyak saat ini? (saya sebut krisis, merefer ke media2 internasional yang memang menyebut dunia sedang dilanda oil crisis). Singkat saja, para broker itu melakukan spekulasi (yaiyaalaah, namanya juga spekulan) aksi jual beli kontrak minyak layaknya melakukan spekulasi di dunia saham yang sudah berlangsung sejak lama. Fyi, para spekulan ini bergeliat di suatu pasar bernama bursa komoditi berjangka, di mana surat2 kontrak komoditi2 penting, dari hasil perkebunan, hingga energi, diperjualbelikan di sana (di Indonesia mulai marak sekitar 5 tahun lalu dengan label futures2 itu). Mereka mengambil keuntungan dari fluktuasi harga. Ketika ada berita penurunan produksi minyak dunia akibat pengaruh masalah di north sea platform, para spekulan berpikir harga minyak pasti akan naik karena pasokan minyak dunia berkurang. Hukum ekonomi, supply turun demand tetap, maka harga akan naik. Karena berpikir akan naik, mereka ramai2 membeli minyak mumpung harga belum naik. Saking ramainya pembelian oleh spekulan, demand bertambah (sementara supply diperkirakan turun), maka harga semakin tajam lagi naiknya. Sangat tajam. Itu lah yang terjadi saat ini.
Sekilas Mengenai Bursa Komoditi Berjangka
Bursa ini mirip dengan bursa saham. Jika bursa saham menjual saham, maka bursa komoditi berjangka ini menjual surat kontrak jual/beli komoditas. Jadi begini, yang dijual di bursa ini bukan komoditasnya, tetapi surat kontrak, bahwa si pembeli nanti akan membeli koditas yang dibeli itu dengan harga sesuai surat kontrak. Misal, Si A minat dengan Kelapa Sawit milik si K (He2, anda pikir saya sebut “si B” ya? anda ketipu *ga jelas*). tetapi kebun kelapa Sawitnya baru mulai ditanam. Karena A minat, maka si K memberikan surat kontrak berisi kelapa sawitnya nanti akan dijual ke A ketika sudah panen nanti, dengan harga sekian dolar. Si A pun wajib bayar ke si K untuk jaminan surat tersebut. Ketika transaksi surat ini berlangsung, si A biasanya bayar 5%~15% dari total pembelian yang disebutkan di kontrak. Ketika sudah panen nanti, maka si A wajib membeli kelapa sawit K dengan harga yang telah disepakati sebelumnya tersebut.
Dahulu kala, bursa komoditi berjangka diterapkan untuk melindungi petani dari fluktuasi harga. Karena dulu itu konon si petani sudah capek2 tanam, eh taunya harga hasil pertaniannya ketika panen jatuh, si petani menangis tersedu2 karena rugi. Karena itu diciptakan lah sistem ini. Si petani mencari calon pembeli. Jika sudah ada kesepakatan si pembeli akan membeli dengan harga yang ditentukan, maka si petani dapat menjalankan tugasnya dengan riang tanpa rasa khawatir harga jatuh ketika panen.
Bursa Komoditi Berjangka itu Jahat
Sekarang, ketika bumi sudah berotasi ribuan kali sejak saat itu, keadaan berubah. Bursa komoditi berjangka ini dimanfaatkan oleh broker2 busuk. Biasanya broker2 ini bekerja di bursa saham. Namun, dalam 5 tahun belakangan ini, si broker melirik bursa komoditi berjangka. Mereka memiliki uang yang besar, bahkan sangat besar. Bursa komoditi memiliki omset yang jauh lebih kecil daripada bursa saham. Karena itu, ketika tiba2 saja uang dari broker2 ex bursa saham tersebut masuk ke bursa komoditi ini, nilai komoditas2 meningkat tajam (kembali ke teori semula, demand naik, harga naik). Tak hanya minyak yang terpengaruh, tapi juga komoditas lainnya seperti hasil perkebunan, batubara, atau emas (dulu saya sempat bilang emas nilainya tetap, tahan terhadap inflasi, tapi saya baru sadar bahwa ternyata emas tidak tahan terhadap bursa komoditas berjangka).
Diyakini, perubahan harga pada bursa komoditi berjangka sangat mempengaruhi harga aktual. Memang, regulasi perdagangan kontrak komoditi, termasuk minyak ini, belum mampu melindungi fluktuasi harga akibat aksi spekulan. Akibatnya, End usernya nanti seperti Indonesia, lewat pertamina, mengimpor minyak dengan harga yang sudah melangit (yang kemudian harga BBM dinaikkan, lalu banyak demo, lalu polisi ngamuk, lalu Unas menuntut polisi, cek cok, dll).
Jika kita telaah lebih jauh ke masa lampau, sebenarnya sudah ada ajaran yang seharusnya bisa mencegah hal ini terjadi. Dahulu kala Nabi pernah berpesan, jangan menjual hasil perkebunanmu jika pohonnya belum berbuah. Ya. Islam mengajarkan untuk tidak boleh berspekulasi jika hasilnya belum tampak. Sesuatu yang dihiraukan para spekulan, karena mereka bahkan membeli dan menjual minyak jauh sebelum minyak itu diproduksi…Mungkin Nabi sudah tau sejak jaman dahulu kalau sistem penjualan tersebut bersifat merusak. Ini 1 bukti lagi bahwa larangan dalam ajaran yang dibawanya ternyata memang ada gunanya :)
*)Cerita sedikit, saya pernah datang ke salah satu kantor bursa komoditi berjangka di Jakarta, tepatnya di gedung BEJ lantai 29. Waktu itu saya masih kuliah, dengan bodohnya saya menghadiri undangan presentasi mereka. Saya perhatikan layar LCD yang menunjukkan fluktuasi harga sebuah komoditas. Di bawahnya tertulis kaligrafi Allah (Hmm.. sungguh.. sungguh teramat bodoh orang yang memasang kaligrafi tersebut di tempat yang bukan sebagaimana mestinya..). Dalam presentasi, saya sudah merasakan ada yang tidak beres dengan sistem perdagangan berjangka. Jual beli maya yang dilakukan mereka ini pasti dapat menghancurkan pasar. Kenapa ada orang yang menciptakan sistem perdagangan seperti itu. Para engineer bekerja keras menciptakan teknologi, para pedagang di pasar riil bekerja kesar mengatur strategi marketing, para buruh banting tulang, para investor sibuk mengembangkan aset. Mereka lah para penggerak ekonomi sesungguhnya. Tetapi kenapa para broker di balik bursa2 itu merusak semuanya… (Fyi, saya pendukung teori Adam Smith yang dianggap kuno oleh kaum moneter itu).
Yang bisa saya lakukan sekarang ini hanya berdoa. Berdoa agar seluruh umat manusia dapat melalui krisis minyak ini, tanpa ada yang dirugikan. Andai2 lagi, jika saja mampu memperbaiki sistem perdagangan seperti itu..hmm..
May 26, 2008 at 1:11 pm
Seharusnya komoditas2 penting bagi kehidupan manusia seperti minyak tidak boleh dipertaruhkan dalam pasar. Kalau saham, terjadi kenaikan, bisa saja calon pembeli berikutnya mengurungkan diri, sehingga harga bisa kembali normal seiring demand yang normal kembali.
Tetapi kalau minyak, harganya naik, orang2 tetap saja butuh. Mau pakai apa lagi, mengingat sumber energi lainnya pun terbatas..
June 1, 2008 at 11:32 am
Yang diperlukan saat ini ahli (tidak hanya “ekonom”
yang berpihak pada kepentingan masyarakat banyak
June 4, 2008 at 12:02 pm
lebih tepatnya rule maker yang berpihak pada kepentingan masyarakat banyak..
June 11, 2008 at 6:15 am
dimasu, lw smithians yah?? hehehe lawannya keynesians….
gw juga lebih cenderung ke adam smith daripada j.m.keynes, kayaknya lebih bisa
diaplikasikan.
June 16, 2008 at 11:58 am
pastinya, do.. walau gw ga paham apa itu teorinya keynes. bukan background ekonomi sih.. he he